aku menulis untuk menceritakan segala sesuatu yang hatiku tahu tapi bibirku tak mampu berseru
Senin, 14 Oktober 2013
Senin, 23 September 2013
Dua Puluh Empat Januari
ada dua hati, sama-sama enggan meninggalkan persimpangan
aku dengan seluruh angan-anganku
dan engkau dengan seutuh masa lalu
tapi aku memilih untuk menerima, bahkan kalaupun semua berujung pada perpisahan,
aku memilih untuk bertaruh hati, sekalipun semua mencemooh
aku tahu hati masih benteng paling jujur, yang lebih mampu menopang
dibandingkan seribu cerca yang datang...
Januari adalah awal yang kita tuliskan mimpi-mimpi
masih selalu dibumbui romantisme yang kali ini membuat kita tertawa,
tapi urusan hati, di mana kita mampu mengukirnya?
Adalah keheningan malam yang mendaraskan rinai rindu,
aku dan sisa-sisa rutinitas
dan sebait kesabaran yang aku temukan di ujung hari..
terima kasih..
Kita berpesta dalam hati, setiap malam dan setiap semua tengah terlelap
aku mendekap erat bulir rindu yang menyeberang jauh dari untai yang terdengar
Kita bercengkerama bahkan ketika hanya sunyi yang merambat
di hela nafasmu masih tersisip sejuta asa
aku mengamini setiap kita memanjatkan doa dalam ritme yang sama
semesta tak pernah mewarnai kelabu yang terlalu membuat resah
Kita tak tahu kapan jalan pulang akan diluruskan dan kapan waktu untuk menjawab tanya
tapi akar-akar keteguhan hati tak pernah lesu
bahkan ketika samudera mengambil jarak
sudah, itu hanya bagian yang nanti akan selesai juga..
"terima kasih untuk perjalanan manis ini..terima kasih karena masih menggenggam hati dan tanganku, dan kita tetap berjalan, tetap percaya dan tetap memilih untuk tak saling melepaskan.."
Sabtu, 21 September 2013
Minggu, 04 Agustus 2013
Obstetri dan Gynekologi, Bandung dan Tiga Sahabat
dear: Tuty, Ainaa dan Iena
Masih ingatkah malam saat kita baca pengumuman stase keluar? Aku yang
terakhir tahu. Kita berempat akan melalui hari-hari di Bandung bersama. Ya. Bandung.
Mulai malam itu juga kita disibukkan dengan persoalan baru selain
tentang ujian interna kita yang masih menanti. Kita sibuk mencari kamar
di wisma rumah sakit. untungnya tak begitu sulit mendapatkannya. Kita
akan tinggal dalam satu kamar. Ya. Berempat dalam satu kamar. aku agak
sulit membayangkannya. Aku jarang bisa berbagi kamar. Harapanku, semoga
kita bisa melalui sepuluh minggu ini dengan sebaik-baiknya.
Sebelum kita tiba di bandung, kita berempat sudah banyak mendengar
tentang hal-hal apa saja yang ada di rumah sakit tempat kita akan
menjalani kepaniteraan klinik bagian obstetri ginekologi ini. Ada yang
membuat kita jadi lebih semangat tapi ada juga yang membuat kita resah. Tapi kita sudah sepakat, semua akan kita lewati sama-sama. ya.
sama-sama.
Hari-hari di bandung tak seperti yang kita bayangkan. Tidak ada sama
sekali waktu untuk bersantai. aku merasa kita jaga malam setiap hari. Ya. Setiap hari. Belum lagi berbagai hal lainnya yang membuat air mata
harus jatuh bercucuran di stase kali ini. Mulai dari kita yang masih
belum paham mengenai "apa maunya konsulen ini" lalu kita yang mencoba
beradaptasi dengan berbagai pribadi di rumah sakit. Kita yang lalu
terjerembab dalam lingkaran yang sungguh sama membingungkannya.
Tidak semua berjalan mulus di Bandung. Sedih, tangis, marah pernah
sama-sama kita rasakan. Pernah jadi bagian yang sekarang jadi kenangan
buat kita berempat. Tapi aku pernah bilang kan, suatu hari justru stase
yang "wah" seperti ini yang akan selalu terkenang di masa-masa kita
sudah sama-sama lulus nanti.
Di stase ini banyak hal yang membuatku cukup merasa berat menjalaninya.
soal lelahnya. soal tugasnya. soal hal-hal lain. dan di stase kali ini
pertama kalinya aku merasakan "opname". duh, kalian pasti tahu malam itu
aku kesakitan. tapi lalu kita sama-sama terbengong-bengong melihat
obat-obatan itu. lucu ya. aku masih ingat betul. masih kecewa. tapi ya
sudahlah. aku tak bisa bilang banyak. cuma bisa menyabarkan diri, orang
yang belum pernah merasakan chest pain tidak akan pernah tahu seperti apa rasanya jadi aku. sudah, itu saja.
aku sangat berterima kasih buat setiap harinya selama aku harus "pindah
kamar" sementara. terima kasih sudah menyelundupkan makanan, terima
kasih sudah menyelundupkan obat juga dan terima kasih pengertiannya
untuk menggantikan jaga selama aku sakit. kalian benar-benar "adik-adik" yang manis (macacih...ciyuss...miapahh..)
di stase ini aku paling banyak pakai ketorolac. menurut catatanku, tak
kurang dari tiga puluh dua ampul ketorolac. tanganku sampai biru-biru
semua. belum lagi sulit menemukan vena untuk bisa suntik iv. aku ingat,
kalian tak pernah mau disuruh untuk suntik iv buatku.
di penghujung cerita di bandung pun kita masih tersandung masalah ujian.
rencana jalan-jalan kita berantakan karena ujianku yang tertunda. tapi
aku cukup bersyukur bahwa tak ada satu orangpun yang menyalahkan kita
berempat (dan terutama aku). aku merasa cukup lega dengan hal itu.
hari-hari terakhir di rumah sakit tiba-tiba jadi membiru. terkenang
nanti kita nggak bisa lagi makan indomie sama-sama, tak lagi ada pecel
ayam yang enak itu, belum lagi soal KFC kegemaranku. tiba-tiba saja
waktu yang tadinya terasa lambat berjalan kini malah sudah hampir sampai
batasnya.
tapi aku tetap sangat bersyukur kita berempat akhirnya menyelesaikan
sampai di garis finish. dengan segala air mata, tawa dan serangkaian
masalah, akhirnya kita berhasil "lolos" dari bandung juga kan?
terima kasih untuk sepuluh minggu yang ajaib. segala lucu-lucunya kita di kamar kalau sudah badmood, atau segala bercanda kita yang kadang keterlaluan, tapi toh akhirnya kita tertawa juga.
cuma bisa bilang, sepuluh minggu ini menjadi salah satu yang termanis dan yang terbaik...
Bekasi, 22 September 2012
12 Stase 12 Kenangan (Bagian Empat-Selesai)
Stase 11 : Ilmu Kesehatan Masyarakat (Jakarta-Karawang)
Entah kenapa, stase yang satu ini selalu jadi momok yang paling ditakutkan, ya setidaknya begitulah menurut pendapatku setelah mendengarkan berbagai ragam cerita tentang stase ini dari teman-teman yang sudah lebih dulu menjalaninya. Katanya "Siap-siap pergi pagi pulang malam!" huaahhh.... kapan ya terakhir kali dapat stase yang pergi pagi pulang malam? Sampai sudah lupa karena beberapa stase terakhir ini tidak terlalu melelahkan.
Dan setelah dijalani, ya memang begitu adanya. Pergi pagi pulang petang (hmm..ralat..sangaaattt petang). Minggu pertama di kampus, tiga minggu berikutnya di Puskesmas Grogol dan di kampus, seminggu berikutnya lagi di kampus. Empat minggu berikutnya di Karawang dan satu minggu penutupnya di kampus lagi.
CAPEKKK????? Bangeeeettttt.......!!!!!!
Selama di Jakarta, jujur ada tidak ada pengalaman yang terlalu berkesan. Semua seperti sebuah rutinitas yang sangat teramat membosankan. Pagi pergi ke Puskesmas sampai jam 12 siang, lalu buru-buru kembali ke kampus, kadang nggak sempat makan siang pula, lalu lanjut bimbingan sampai petang sekali, pulang, tidur karena kecapekan, bangun tengah malam buat kerjakan tugas, pusing dengan penelitian, tidur menjelang pagi dan jam 7 pagi sudah harus bangun lagi. Ya bagitu saja tiap hari selama lima minggu.
Apa aja sih yang dikerjakan? Kenapa sampai capek begitu? Penelitian! Itu yang bikin capek. Capek karena harus bolak-balik cari jurnal, cari bahan, kerjain ini itu, cari dosen pembimbing, bikin kuisioner, semua-muanya, bikin kepala rasanya mau meledak. Tapi ya, berusaha buat tetap calm down aja, soalnya semua koass harus melewati ini kan? This too will pass... Sabar aja, itu prinsipnya, kalau nggak, bisa psikosis nanti.
Empat minggu di Karawang agak lebih menyenangkan. Ada suasana baru dan jauh dari Jakarta itu selalu menyenangkan. Nggak ketemu macet, nggak ketemu gedung-gedung aja, tapi tiap hari bisa lihat sawah :)
Puskesmas tempat saya dan seorang rekan saya bertugas tidak begitu besar. Tidak begitu ramai juga. Jam 12 siang Puskesmas sudah (nyaris) tutup.
Saya di sini ditempatkan bersama seorang rekan saya, sebut saja namanya Susi (eh..memang namanya Susi ya?) Setidaknya, dapat teman yang tingkat kewarasannya sama itu menyenangkan. Tidak terbayang kalau harus tinggal satu rumah dengan teman yang tidak cocok. Sudah di Karawang itu nggak ada hiburannya, temannya nggak enak, wah, itu sih pulang-pulang bisa konsul ke Grogol. Nah, sama Susi, semuanya jadi terasa ringan.
Saya di sini ditempatkan bersama seorang rekan saya, sebut saja namanya Susi (eh..memang namanya Susi ya?) Setidaknya, dapat teman yang tingkat kewarasannya sama itu menyenangkan. Tidak terbayang kalau harus tinggal satu rumah dengan teman yang tidak cocok. Sudah di Karawang itu nggak ada hiburannya, temannya nggak enak, wah, itu sih pulang-pulang bisa konsul ke Grogol. Nah, sama Susi, semuanya jadi terasa ringan.
Di Karawang di isi dengan pagi- siang tugas di Puskesmas, siang istirahat, sore ngobrol-ngobrol nggak jelas, malam juga hanya santai-santai. Harus saya akui, it was bored!
Tapi ada yang bikin senang sih waktu di Karawang, saya bisa ke Rengasdengklok, ke tempat Bung Karno pernah diasingkan menjelang kemerdekaan. Akhirnya nambah juga wisata sejarah saya. Oh ya, di sini juga ada serabi ijo yang ueeeenaaakk tenan. Pokoknya enak banget, apalagi pakai kuah durian. Top markotop deh!
Di Karawang, kami tinggal di rumah seorang bapak yang bekerja di BKKBN. Selama ini ya itulah tempat tinggal koas yang ditempatkan di Pedes. Wah, tinggal di rumah bapak ini, badan langsung melar semelar-melarnya, padahal saya bertekad mau ngurusin badan, lah malah jadi sebaliknya. Faktor pertama karena harus makan malam sama-sama (padahal biasanya saya sudah jarang makan malam) yang kedua, racun yang sesungguhnya adalah Susi! bayangkan, jam sembilan malam dia main ke kamar dan masih buka-buka wafer, chiki dan segala jenis cemilan. Haduhh...
Di Karawang, kami tinggal di rumah seorang bapak yang bekerja di BKKBN. Selama ini ya itulah tempat tinggal koas yang ditempatkan di Pedes. Wah, tinggal di rumah bapak ini, badan langsung melar semelar-melarnya, padahal saya bertekad mau ngurusin badan, lah malah jadi sebaliknya. Faktor pertama karena harus makan malam sama-sama (padahal biasanya saya sudah jarang makan malam) yang kedua, racun yang sesungguhnya adalah Susi! bayangkan, jam sembilan malam dia main ke kamar dan masih buka-buka wafer, chiki dan segala jenis cemilan. Haduhh...
Di Karawang, karena kami ke Kecamatan terpencil, Kecamatan Pedes, saya dan rekan saya menyaksikan sendiri bagaimana siswa-siswi di sekolah terpencil, melihat kondisi mereka membuat saya miris. Membuat hati ini seperti ingin menangis (atau malah sudah menangis?) Kondisi sekolah yang begitu seadanya, bangunan yang sudah tak kokoh lagi, tenaga pengajar yang pas-pasan. Sementara di Jakarta, sekolah internasional dengan bayaran selangit berdiri begitu megah. Seperti itukah kesenjangan dunia pendidikan kita?
Selama di Karawang, ada tiga kali kami berkumpul di Kota Karawangnya. Rasanya lucu saja, kami yang datang dari berbagai kecamatan di Karawang, kumpul bersama dan seolah punya seribu satu macam cerita untuk dibagikan. Serasa sudah sepuluh tahun tidak jumpa, padahal sih bar seminggu berpisah. Tiap kali harus berkumpul di dinas kesehatan Karawang, serasa reuni..
Selama di Karawang, ada tiga kali kami berkumpul di Kota Karawangnya. Rasanya lucu saja, kami yang datang dari berbagai kecamatan di Karawang, kumpul bersama dan seolah punya seribu satu macam cerita untuk dibagikan. Serasa sudah sepuluh tahun tidak jumpa, padahal sih bar seminggu berpisah. Tiap kali harus berkumpul di dinas kesehatan Karawang, serasa reuni..
Satu minggu penutup kembali ke kampus dan mempersiapkan ujian evaluasi program. Kalau nggak ada sesi ke Karawang, pasti IKM ini nggak ada seru-serunya ya :)
Stase 12 : Ilmu Penyakit Mata (Ciawi)
Apa yang saya lakukan ketika pertama kali membaca nama saya ada di pengumuman stase yang menuliskan bahwa saya dapat stase Mata di RSUD Ciawi? Oke, harus saya tuliskan dengan sejujur-jujurnya... saya NANGIS!
Teman-teman bilang Mata di Ciawi itu "selamat menikmati deh Morin.." tentu saja kalimat ini diucapkan dengan senyum jahat, kayak mak lampir kalau mau merebus anak orang. (Kebayang kan 'gimana ketawanya?)
Tapi mau bagaimana lagi, tiga kali ralat dan belum juga ada tanda-tanda saya dilempar ke Yogya, apalagi ke Lampung. Ya sudah, terima saja. Cuma lima minggu koq, lagian, kalau saya mulai badmood soal stase, saya mulai mikir apa yang akan terjadi setelah stase.. saya mau ketemu pacar :)
Hari Minggu, saat tiba di kost baru, rasanya nggak semangat. Saya masih mengadu pada pacar sambil nangis, "Mas...nggak mau lah Mata di Ciawi..." Tapi kata pacar saya, "Adek pasti bisa. Mas yakin adek pasti bisa melewatinya.." Dalam hatiku mengamini, semoga semuanya berjalan lancar.
Minggu pertama berjalan dengan sangat mendebarkan. Rasanya jantung selalu takikardi kalau sedang bertugas di poli, malam tidur gelisah, makan nggak enak, entah kenapa kepikiran terus soal stase ini. Padahal baru minggu pertama. Minggu pertama sih belum benar-benar bertugas, masih belajar sambil sesekali ikut melakukan pemeriksaan dengan teman-teman yang sudah lebih dulu di stase ini.
Minggu kedua, ketika sudah harus pegang pasien, jantung lebih-lebih lagi takikardinya. Apalagi kalau harus meletakkan status pasien di depan konsulen. Rasanya keringat mengucur deras dan tangan gemetaran. Mungkin terbawa omongan teman-teman yang sudah menakut-nakuti duluan.
Tiap malam masih selalu telepon pacar buat mengeluh sana-sini, tapi pacar saya ini sabar sekali ya...nggak pernah protes kalau tiap malam saya mengeluh hal yang sama, katanya selalu, "Nggak apa-apa dek, nanti adek jadi pintar selesai stase.."
Hari Minggu, saat tiba di kost baru, rasanya nggak semangat. Saya masih mengadu pada pacar sambil nangis, "Mas...nggak mau lah Mata di Ciawi..." Tapi kata pacar saya, "Adek pasti bisa. Mas yakin adek pasti bisa melewatinya.." Dalam hatiku mengamini, semoga semuanya berjalan lancar.
Minggu pertama berjalan dengan sangat mendebarkan. Rasanya jantung selalu takikardi kalau sedang bertugas di poli, malam tidur gelisah, makan nggak enak, entah kenapa kepikiran terus soal stase ini. Padahal baru minggu pertama. Minggu pertama sih belum benar-benar bertugas, masih belajar sambil sesekali ikut melakukan pemeriksaan dengan teman-teman yang sudah lebih dulu di stase ini.
Minggu kedua, ketika sudah harus pegang pasien, jantung lebih-lebih lagi takikardinya. Apalagi kalau harus meletakkan status pasien di depan konsulen. Rasanya keringat mengucur deras dan tangan gemetaran. Mungkin terbawa omongan teman-teman yang sudah menakut-nakuti duluan.
Tiap malam masih selalu telepon pacar buat mengeluh sana-sini, tapi pacar saya ini sabar sekali ya...nggak pernah protes kalau tiap malam saya mengeluh hal yang sama, katanya selalu, "Nggak apa-apa dek, nanti adek jadi pintar selesai stase.."
Saya merasa lumayan beruntung, dulu saya pernah harus mengulang Mata di Semester Pendek (SP), dan saking ketakutannya saya nggak lulus lagi di SP itu (bayangkan, kalau saya nggak lulus, saya harus bayar BPP pokok lebih mahal daripada harga SKS Mata dan kesandung satu matkul itu nggak enak) jadi saya mati-matian belajar mata. Tiap pagi siang sore malam, kemana-mana bawa buku ijo, di dalamnya stabilo warna-warni sudah menghias, saking tangan saya nggak bisa diam kalau lagi belajar. Semua rangkuman, semua soal Mata, saya kerjakan dengan sepenuh hati jiwa raga, pokoknya saya harus lulus! Dan memang saya lulus. Bahkan saya ingat banget, waktu Try Out, dari 50-an orang yang ikut kelas cuma saya dan seorang teman saya yang lulus. Bangga? Lumayan, setidaknya itulah hasil kerja keras saya.
Lebih semangat belajar Mata lagi, karena waktu kami disuruh kumpul rangkuman di sebuah buku, di bagian gambar Anatomi Mata, saya dapat marka dari dosen Mata saya (yang juga konsulen mata di RSUD Ciawi) "gambar bagus, enak buat belajar" yihiiii...siapa nggak senang dapat tulisan seperti itu? di saat teman-teman lain dikomentari kurang ini itulah, punya saya dapat komentar positif, tambah semangat deh. Apalagi di halaman belakang tertulis "tulisan rapi, tetap pertahankan.." Padahal tugas itu saya kerjakan sudah sambil ngantuk-ngantuk.
Berbekal saya punya basic yang lumayan lah di otak saya tentang Mata, saya sudah tidak terlalu kesulitan untuk belajar Mata. Baca satu kali sudah langsung masuk di otak, karena memang hanya tinggal "memory call" saja. Itu toh gunanya saya dulu banting tulang, otot, darah, jantung, paru-paru, demi lulus Mata, ternyata terpakai di kepaniteraan.
Minggu selanjutnya sudah terasa lebih menyenangkan. Pagi-pagi setelah absen di detik-detik terakhir (Ya iyalah, harus absen sebelum jam delapan), duduk-duduk sarapan pagi dulu makan bubur ayam di depan RS yang enak banget (bolehlah saingan sama bubur ayam di RSUD Koja yang juga mantap). Lalu haha hihi sebentar di poli, terus mulai periksa pasien, bantu dan belajar dengan konsulen, pulang kelaparan, makan bareng sambil cekakak-cekikik buat mengurangi stress, pulang kost, mandi, TEPAR...
Di stase ini, kejadiannya hampir sama seperti waktu di Bandung. Saya yang paling senior diantara tiga rekan saya. Dan seperti kata kawan saya waktu di Bandung, "Yaelah Rin.. lu yang kakak kelas tapi lu yang di bully adik kelas, gimana sih, heran gue!" hahaha..ya ampun, saya juga nggak tahu kenapa.
Kalau ada hal-hal yang harus dikonfirmasi, hal-hal yang harus ditanyakan, atau apa saja yang berhubungan dengan konsulen, maka sayalah yang didaulat harus bicara. Haduh..pingin rasanya jitak kepala adik-adik kelas saya satu-satu, dikira saya nggak stress apa kalau berhadapan dengan konsulen? Tapi karena saya kakak yang baik (anggap saja begitu) jadi selalu saya yang maju duluan.
Oh ya, di RS ini beberapa kali saya menghadapi orang asing (orang luar negeri) yang tidak bisa berbahasa Indonesia. Dan herannya, (lagi-lagi efek kakak kelas yang menyedihkan, yang selalu di bully adik kelas) pasien-pasien asing itu selalu jadi bagian saya. Kadang mereka sengaja memanggil pasien, setelah dipanggil statusnya diberikan pada saya dan saya baru sadar kalau pasiennya orang asing, tapi sudah terlambat buat protes. Alhasil cuma bisa melotot ke arah teman saya yang sudah senyum-senyum penuh kemenangan.
Di stase ini, kejadiannya hampir sama seperti waktu di Bandung. Saya yang paling senior diantara tiga rekan saya. Dan seperti kata kawan saya waktu di Bandung, "Yaelah Rin.. lu yang kakak kelas tapi lu yang di bully adik kelas, gimana sih, heran gue!" hahaha..ya ampun, saya juga nggak tahu kenapa.
Kalau ada hal-hal yang harus dikonfirmasi, hal-hal yang harus ditanyakan, atau apa saja yang berhubungan dengan konsulen, maka sayalah yang didaulat harus bicara. Haduh..pingin rasanya jitak kepala adik-adik kelas saya satu-satu, dikira saya nggak stress apa kalau berhadapan dengan konsulen? Tapi karena saya kakak yang baik (anggap saja begitu) jadi selalu saya yang maju duluan.
Oh ya, di RS ini beberapa kali saya menghadapi orang asing (orang luar negeri) yang tidak bisa berbahasa Indonesia. Dan herannya, (lagi-lagi efek kakak kelas yang menyedihkan, yang selalu di bully adik kelas) pasien-pasien asing itu selalu jadi bagian saya. Kadang mereka sengaja memanggil pasien, setelah dipanggil statusnya diberikan pada saya dan saya baru sadar kalau pasiennya orang asing, tapi sudah terlambat buat protes. Alhasil cuma bisa melotot ke arah teman saya yang sudah senyum-senyum penuh kemenangan.
Minggu keempat dan kelima mulai lebih betah, mulai lebih bisa rileks di poli dan mulai bisa menyesuaikan diri. Sayangnya, karena lagi-lagi memberhentikan terapi, terpaksa beberapa kali harus suntik iv novalgin buat tetap bisa bertugas di poli.
Stase penutup ini sangat berkesan. Iya sih, ngomong berkesannya pas di akhir stase. Hihihi. Nggak apa, yang penting berkesan. Kalau kata mama "Kamu itu selalu nangis di awal stase bilang berat lah, nggak betah lah, tapi giliran sudah kelar stase bilangnya kangen.." hehehe..
dan...1 Juni 2013....selesai sudah saya menjalani DUA BELAS STASE kepaniteraan. Langkah rasanya jadi lebih ringan mau pulang ke rumah, mau menghitung hari buat pulang ke Metro. Semuanya manis, semuanya indah.....kalau sudah selesai...hihihi...
Long Distance Relationship
Kalau saya bisa, saya nggak mau jatuh cinta sama orang yang buat ketemu dengannya, saya harus menempuh...
- 1,5 jam dari rumah ke bandara Internasional Soekarno Hatta, Cengkareng- 30 menit di atas pesawat- 1 jam dari bandara Radin Inten II Tanjung Karang sampai ke Metro, atau..
- 8-9 jam perjalanan darat dari Bekasi sampai Metro
Ya, sekali lagi saya katakan, itu kalau saya bisa. Sayangnya, dia, laki-laki yang membuat saya merasa yakin dengannya itu ya memang tinggalnya ribuan kilometer dari saya.
Kalau punya pasangan LDR yang mengerti benar arti komitmen dan serius dalam menjalani hubungan, LDR memang bukan momok. Semua dijalani dengan santai tapi tetap mengarah pada sebuah tujuan. Jarak bukan alasan segala pertengkaran, segala kecemburuan. Paling nggak, saya tahu kualitas pacar saya. :)
Enaknya LDR di saat saya masih harus menjalani masa studi antara lain:
- saya lebih fokus menyelesaikan studi dan nggak perlu repot-repot mengatur jadwal kapan harus jalan sama pacar, nggak harus pusing membagi waktu
- kalau sudah capek seharian dengan rutinitas, telpon-telponan tengah malam itu sudah nggak ada energi kalau buat hal-hal yang nggak penting seperti saling cemburu atau apalah, yang ada, kita cuma pingin ngobrol-ngobrol dan ketawa-ketawa
- jadi jauh lebih mandiri, karena pacar kan jauh, nggak ada yang bisa dimintai tolong kalau kita butuh apa-apa. harus bisa mengatasi masalah sendiri
- dan ketika datang hari yang kita tentukan bersama untuk bertemu...rasanya benar-benar tak terlukiskan. betapa mahalnya arti sebuah pertemuan, tapi bertemu di saat beban studi sudah kelar itu rasanya memang berbeda. senang-senangnya tanpa beban
Nggak enaknya LDR buat saya antara lain :
- Kalau malam minggu jalan-jalan, kanan kiri depan belakang lihat orang pacaran dan saya cuma bisa senyum sambil gigit jari.
- Biar sudah sekangen apa juga, kalau belum waktunya ketemu ya nggak bisa dipercepat. Pertemuan kita benar-bnar harus terjadwal.
- ...nggg....nggak tahu apa lagi..
Dibilang susah ya lumayan susah, tapi dibilang seru ya seru aja. Saya sih ambil sisi positifnya aja. Pacaran biar tiap hari ketemu, kalau nggak cocok ya nggak cocok aja. Nah, gitu juga saya. Jarak nggak pernah jadi masalah. Kan ada telepon. Kalau hanya mau membicarakan masalah, via telepon juga bisa koq. Dan beruntungnya saya, punya pacar yang nggak kayak satpam, yang mau tau aja urusan saya. Dia percaya saya dan begitu juga sebaliknya. Cemburu dan curiga disingkirkan jauh-jauh. Buat apa menambah beban pikiran?
Pacaran bukan sekedar bertemu, jalan-jalan bareng atau berduaan melulu. Buat saya, tiap hari juga saya bisa berduaan dengan pacar saya walaupun lewat telepon. Tapi toh saya masih tetap bisa berbagi, masih bisa curhat masih bisa kangen-kangenan dan masih bisa saling mengenal karakter masing-masing.
LDR itu cuma soal.....dengan siapa kita menjalaninya...itu saja.
Jumat, 02 Agustus 2013
Kesempatan (pernah) Ada
3 Agustus 2013
Kepada Matahari......
Apa menurutmu lucu ketika kita saling melihat satu sama lain dan saling menunjukkan ego? Apakah menurutmu ini sebuah permainan? Bahwa sebenarnya hati kita sama-sama terluka? Tertikam oleh kemelut yang sekian tahun kita bangun dan robohkan sendiri? Apakah menurutmu ini masuk di akal? Bahwa kita saling mempertontonkan hal yang diam-diam ingin kita terabas jauh di dasar hati?
Aku pernah meminta kesempatan seperti bertahun-tahun silam engkau memohon untuk diberikan kesempatan, tapi kesempatan yang kesekian kali memang tidak pernah tiba. Kita cuma bermain-main dalam labirin waktu yang tidak pernah kita perhitungkan kapan akan selesai.
Matahari,
Apa kau sama terlukanya denganku? Kalau tidak, mengapa rongrongan ini datang bertubi setelah sekian lama aku tak mendengar seluruh riuh kabarmu. Kita mencari, kita menemukan, tapi kita tak pernah saling rela untuk melepaskan. Ya kan?
Ya, aku sendiri terpuruk, dalam jeram yang entah di mana muaranya. Aku tahu bahwa butuh perjuangan dan kerelaan untuk berani tak menatap lagi ke masa lalu, tapi perkara perasaan, mengapakah sulit sekali? Aku hanya berpikir, mengapa setelah sekian lama, aku harus tiba-tiba takut kalau kau ada di sana, di sebuah gereja kecil, tempat kita biasa duduk berdua dan memadahkan Bapa Kami? Apa kau hadir di Ibadah Ekaristi minggu sore ini?
Aku sendiri tidak tahu kenapa aku harus takut berdahapan denganmu. Mungkin, aku takut untuk menyapa, takut tidak tahu harus berbuat apa. Apa kita harus berbasa-basi dan saling tersenyum lalu duduk terpisah atau duduk bersisian seperti biasanya. Aku tak mau terlalu banyak berspekulasi, jadi, lebih baik aku tak bertemu denganmu.
Aku pernah menuliskan kepadamu, "Matahari, semua orang menginginkan payung yang bagus, payung yang cantik, tapi ketika hujan datang, berapa banyak dari payung yang cantik itu yang tetap bertahan? Yang mampu tetap melindungimu dari terpaan angin dan derasnya air yang menerpamu? Yang satu mungkin patah karena jerujinya tidak kuat, yang lain mungkin koyak, sebab bukan kain yang bagus untuk dijadikan payung. Cantik itu luka, Sayang. Ketika hujan, orang tak akan melihat soal apakah payung yang kaubuka cantik atau tidak. Mereka tidak memperhatikan soal warna payungmu. Mereka hanya akan melihat payung itu dapat melindungimu atau tidak. Kau akan ditertawakan orang bila memilih payung cantik tapi tak bisa kau pakai untuk melindungi dirimu di saat hujan. Orang akan bilang kau membuang-buang uang hanya untuk payung yang terlihat cantik tapi sebenarnya tak ada gunanya."
Aku mengerti betul, hampir tidak mungkin kita bisa menyusuri jalan yang sama, walaupun kedepannya aku tak tahu apa rencana Tuhan. Tapi, pilihlah payung yang kuat dan mampu melindungimu. Jangan lagi membuang-buang uang hanya demi sebuah payung cantik yang bisa kau pamerkan hanya saat hari biasa, sedangkan saat hujan kau ragu membukanya, karena kau tahu payung itu rapuh.
Aku merasakan jerit pilu yang sama, yang senada dan yang masih tersisa di sudut hati. Tapi terkadang kta harus menghadapi yang bukan pilihan kita. Ya kan, Matahari?
Kesempatan (pernah) ada, dan kita sudah banyak menghabiskannya dengan terlunta-lunta mempermainkan perasaan masing-masing. Aku mengalah, Matahari. Maaf, kalau kemarin menyalakan sumbu cemburu di relung hatimu. Maaf kalau aku menyulut penyesalan yang tiba-tiba merambat di hati masing-masing. Aku sungguh tak tahu sampai sejauh apa kita mampu saling tersenyum dan mengatakan semuanya akan baik-baik saja.
Langganan:
Postingan (Atom)





