Selasa, 30 Juli 2013

Melayani Pasien Kelas Tiga

Mat 25:45, "Then He will answer them, saying, 'Assuredly, I say to you, inasmuch as you did not do [it] to one of the least of these, you did not do [it] to Me.'


Melayani pasien berkelas, yang mampu membayar segala-galanya dengan lebih mahal, yang datang berobat tanpa kartu-kartu sakti, pastilah lebih menyenangkan bukan? Kita dapat ganti jasa yang sama dengan apa yang kita berikan kepada mereka.

Tapi, di saat yang kita hadapi pasien yang datang dengan "kartu sakti" atau malah tanpa jaminan apa-apa tapi tidak bisa membayar, apa yang kita pikirkan?

Bukan sekali dua kali saya menghadapi sendiri di depan saya, ketika pasien-pasien yang tidak mampu diperlakukan secara berbeda oleh para petugas medis dan paramedis yang merawatnya. Makanya sering ada kesan "Dokter dan perawat kalau di kelas tiga galak-galak." Bayangkan dong, saya aja yang hanya kebetulan berdiri dekat mereka merasa koq ini dokter/ perawat galak banget ya? Apalagi mereka yang mengalami sendiri.

Selama menjalani masa kepaniteraan klinik, ada satu hal yang selalu saya tanamkan di hati, sebuah ayat Alkitab pegangan saya "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari saudaraku yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku"


Bayangkan, mereka yang di kelas tiga itu SEMUA nya saudara-saudarinya Tuhan Yesus. Kalau kita semua berpikir seperti itu, pastilah sikap kita akan sangat berbeda. Ya kan? Kalau kita merawat saudara kita sendiri saja pasti dengan sepenuh hati, dengan tulus, dengan sebaik-baiknya, apalagi kalau saudara-Nya Tuhan Yesus? Tidakkah kita ingin melayaninya lebih baik?

Yesus bisa hadir di mana saja dan menjadi siapa saja, tapi saya percaya Yesus tidak akan mengambil rupa seorang kaya, yang pasti memang akan dilayani dengan baik. Ia akan mengambil rupa seorang hamba.

Saya hanya membayangkan, barangkali dari sekian puluh pasien di bangsal kelas tiga, pasien yang tak mampu itu, barangkali ada Yesus satu diantaranya. Kita tidak pernah tahu, bukan? Jadi kita hanya selalu bisa bersiap-siap dan selalu melayani dengan baik. 

Saya tahu, dokter juga manusia. Dokter juga sebuah pekerjaan. Tapi satu hal, "Carilah dulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka segalanya akan ditambahkan kepadamu." Masih percaya janji itu kan? Tuhan tidak akan membiarkan kita kekurangan, tapi setialah dulu pada perkara-perkara Kerajaannya.


Kenapa harus memberikan pelayanan berbeda kepada mereka yang tidak mampu membayar mahal? Bukankah senyum kita itu gratis? Jadi kenapa harus berat membagikannya kepada mereka di kelas tiga? Senyum kita kan harganya sama di kelas VIP ataupun di kelas tiga. Sama-sama gratis. Jadi, kenapa berat hati untuk tersenyum dan malah memasang wajah jutek? 



Sapaan kita juga seharusnya tidak berbeda kepada pasien kelas VIP dan pasien kelas tiga. Toh sapaan kita gratis koq. Kita nggak perlu keluar biaya buat menyapa mereka. Jadi kenapa harus bicara dengan nada ketus kalau dengan bahasa lembut kita bisa memberikannya secara gratis? Ingat, jangan bangga cuma pakai snelli putih kemana-mana, kalungin stetoskop, naroh penlight di saku atas terus jalan sambil dagu diangkat. Awas, kalau jatuh, nanti ditertawakan, bukan malah dibantu. Turunkan ego, jalan sambil senyum ke keluarga pasien.


Sepanjang saya menjalani kepaniteraan, ketika ditempatkan di daerah luar Jakarta, saya lebih senang kalau harus follow up di ruangan kelas tiga. Kenapa? Mereka lebih menghargai kedatangan saya buat mereka. Saya senang disambut dengan senyum ramah mereka. Walaupun malamnya lelah sehabis jaga, tapi kalau ketemu pasien dan dikasih senyum, rasanya semua lelah berlalu begitu saja. Saya lebih merasa ada artinya di hadapan mereka. Tidak semua pasien kelas satu atau pasien VIP terkesan sombong bahkan ada yang terang-terangan "tidak mau dipegang koass" itu hak mereka. Saya pernah koq bisa menghabiskan waktu follow up cukup lama di ruang kelas satu karena asyik bertukar cerita dengan seorang pasien di sana. Salah satu pasien yang meninggalkan kesan mendalam semasa saya menjadi koasisten. Tapi tetap saja begitu berbeda rasanya kalau ada di ruang kelas tiga.


Pacar saya (ceile pacar) pernah bilang "Menolong orang di desa-desa, orang yang nggak mampu, itu seribu kali lebih membahagiakan. Melihat senyum mereka kalau mereka sudah membaik, mendengar mereka mengucapkan terima kasih sambil menyalami tangan kita, itu gak terbeli dengan apapun. Rasanya kita tuh dibutuhkan banget..."
Saya bangga loh punya pacar yang bisa ngomong seperti ini. Setidaknya saya tahu bahwa kami satu visi ke depan atau setidaknya, saya punya seseorang yang akan selalu mengingatkan saya kalau saya mulai lupa dengan panggilan hidup saya.

Soal biaya, perkara pasien mampu bayar atau tidak bayar dan perkara pasien datang dengan latar belakang apapun, biarlah itu menjadi perkara yang lain, bukan hal yang membuat kita tidak bisa memberikan senyum atau malah bersikap jutek dan sinis terhadap pasien. 

Kalau pasien datang ke kita setelah kondisinya parah akibat sebelumnya pergi berobat ke alternatif, maka kasihanilah mereka, jangan tambah dipojokkan. Jangan disalah-salahkan. Kita boleh menyesali adanya pengobatan alternatif yang malah memperburuk pasien, tapi jangan lagi tambah beban pasien. Selama kita sudah memberikan edukasi yang baik, apapun pilihan pengobatan pasien, itu sepenuhnya hak mereka. Ketika mereka datang ke kita, lihatlah mereka sebagai seorang yang butuh bantuan, butuh pertolongan, bukan butuh ceramah tetek bengek kita soal "kesalahan pengobatan alternatif". Dengan mereka datang ke kita, mereka sebenarnya sudah sadar bahwa mereka sudah salah makanya kembali ke kita. Nah, sudah, jangan tambah disalahkan lagi. Kasih senyum, terima dengan baik dan layani tetap dengan sepenuh hati. 

Yang jelas, lakukanlah bagian kita dengan setia. Berikanlah pelayanan yang sama kepada pasien kelas berapapun. Mereka sama menderitanya dengan pasien di ruangan VIP. Soal lain-lain boleh berbeda, tapi senyum dan sapa hangat kita harus tetap sama. Kalau di kelas VIP senyum tiga sentimeter, maka di kelas tiga juga harus tiga sentimeter.

Kalaupun kita lantas tidak jadi kaya raya, minimal kita berkecukupan. Minimal Tuhan tidak biarkan kita kekurangan. Tapi ya, kalau orang yang mampu bersikap baik kepada sesiapapun, rasanya selalu kelak akan banyak yang balik membantu. Apa yang kita tanam, itu juga yang kita tuai, bukan?


Besok, masuk ruang kelas tiga, jangan lupa senyum sambil bilang, "Selamat pagi, Pak!" sambil menepuk lengannya dengan penuh kasih yaa....Selamat melayani dan Tuhan berkati!
 

Senin, 29 Juli 2013

Kenapa Saya Yakin Denganmu...

Saya tahu kekasih saya menyayangi saya dari hal-hal yang dilakukannya buat saya:

  • selalu menceritakan semua masalahnya pada saya dan mendengarkan pertimbangan saya. Diberikan kepercayaan seperti itu jelas sebuah kebanggaan buat saya.
  • tidak pernah keberatan ditelepon jam berapapun kalau tiba-tiba jantung saya lagi kambuh. dia adalah orang yang tahu kalau saya pasti lagi sakit kalau saya menelepon tengah malam, dan esok paginya dia adalah orang pertama yang akan menanyakan keadaan saya.
  • caranya marah kalau saya ngambek dengan cara nggak mau angkat teleponnya. Well, dia bukan tipe cowok yang akan membujuk/ memanis-maniskan diri kalau saya lagi ngambek. Dia akan marah dan biasanya akan keluar kata-katanya "jangan tutup telepon sebelum kamu ngomong ada apa sampai kamu ngambek begini!" jujur saya lebih suka dengan laki-laki yang bisa mengingatkan bahkan mendebat saya kalau saya salah. dibandingkan dengan laki-laki yang cuma iya-iya aja, saya mah ogah bener deh.
  • caranya bermanja-manja kalau seharian sudah capek bekerja. Harus saya akui, dia laki-laki paling manis yang manja-nya selalu bikin saya tertawa, bukan malah bikin eneg. Kalau manjanya lagi kumat, entah kenapa saya jadi tambah sayang, mungkin karena dia memang jarang manja, tapi senang aja sesekali kalau dia bermanja-manja dengan saya.
  • laki-laki yang mau aja disuruh nyanyi satu album di telepon. Saya suka kangen dengar suaranya. Dia suka nyanyi buat saya, dan biasanya habis itu saya suka nangis kalau dengar lagu itu di playlist.
  • caranya memeluk saya dari belakang yang benar-benar bikin saya merasa nyaman. Kadang suka kaget kalau dia tiba-tiba peluk atau rangkul saya dari belakang, sebentar aja sih, habis itu dilepas dan ya udah gitu doang.
  • kalau lagi naik motor berdua, dia sering minta dipeluk tiba-tiba, kalau saya lama gak peluk, nanti tangan saya ditarik dan dia bilang "peluk mamas sih, dek.." :p mudah-mudahan mas nggak ketawa bacanya..Sebenarnya ingin peluk mas sepanjang jalan, tapi pegel rasanya, kalau lagi gak pakai helm sih enak aja peluknya, tapi kalau lagi pakai helm, jadi nggak bisa meletakkan dagu di bahu mamas.
  • dia mencium saya di depan orang tuanya. Sebenarnya gak di depannya juga sih, waktu itu kami di mobil dalam perjalanan ke Padang Ratu, saya dan mas duduk di belakang. Lumayan kaget juga sih waktu mas cium pipi saya. Yang saya tahu sih bapak sempat ngelirik..haduhh...sampai merah wajah saya rasanya..
  • waktu dia menyuntik benzatin penisilin buat saya dan maksa obat itu harus masuk semua. Asli, kalau dalam hal-hal seperti ini, pacar saya galak banget! Mungkin dia kekasih saya yang paling galak, tapi saya tetap sayang koq. Galaknya selalu ada maksud baiknya..
  • waktu saya lagi ngantuk berat di feri saat perjalan ke Metro, dia tiba-tiba menarik saya dan membiarkan saya tidur dalam pelukannya. Jujur aja rasanya terharu banget. Nggak ada lain yang saya pikirkan saat itu selain betapa nyamannya bisa bersandar di bahunya.
  • dan waktu saya harus kembali ke jakarta, di sebuah momen di siang itu, tiba-tiba dia peluk saya erat-erat dan bilang "jangan tinggalin mamas, dek.." dengan suaranya yang benar-benar terdengar tulus. Tiga detik kemudian, dia lepaskan pelukan dan kembali berusaha nampak tegar melepaskan kepergian saya. Mau rasanya nggak usah balik ke Jakarta, tapi apa mau dikata, masih panjang perjalanan sabar yang harus ditempuh bersama.

ya, banyak lagi alasannya, setidaknya berbaris-baris di atas itu mengalahkan hal-hal yang tidak saya suka darinya. semua orang punya kelebihan dan kekurangan, yang bisa saya lakukan adalah menjadi pelengkap baginya, dan begitu banyak alasan saya untuk masih tetap bersamanya sekalipun orang-orang di luar sana begitu sinis. seperti yang sering saya bilang pada pasangan saya, "saya yang tahu kamu, bukan mereka yang di luar sana."

Minggu, 28 Juli 2013

Penyimpan Kenangan

Kemarin pagi, saya asyik dengan kegiatan membereskan lemari dan rak buku di kamar. Hal yang paling asyik kalau membereskan barang-barang di kamar itu nggak lain karena kita bisa tiba-tiba menemukan barang-barang lama yang sebenarnya kita sendiri sudah nggak ingat kalau punya. 

Banyak barang-barang yang saya temukan, tapi dari yang banyak itu, ada beberapa yang membuat saya jadi senyum-senyum sendiri. Kebanyakan sih tulisan-tulisan saya di masa SMP sampai SMA. Buku catatan harian, cerpen atau novel yang saya buat saat masih duduk di bangku SMP. Waktu membacanya kembali, benar-benar bikin senyum bahkan ketawa malu. Ya ampunnn...ternyata dulu waktu SMP saya ini termasuk alay juga yaakk... hihihi

digambar oleh kawan SMA saya, Andina Ramadhani, yang ceweknya itu saya, tapi yang cowoknya...rahasia


Selain barang-barang tersebut, ada lagi yang saya temukan, seperti binder tempat dulu kawan-kawan semasa SMP mengisi dengan biodata mereka. Ingat kan zaman dulu SMP, mungkin sekitar tahun 2000-an, lagi nge-trend banget mengisi binder teman dengan biodata kita lengkap dengan kesan-kesan terhadap si teman yang punya binder. Dari semua yang yang mengisi binder itu, ada satu yang spesial. Siapa lagi kalau bukan si Mr. X, seseorang yang pernah ada di hati saya. 

Kerennya, saya masih menyimpan foto-fotonya, masih menyimpan semua tulisan-tulisannya. Si Mr. X ini dulu banyak mendominasi binder saya. Dia suka menulis lirik lagu yang dia suka (dan untungnya selera musik kami sama, kebayang 'gak kalau saya sukanya Westlife dan dia menuliskan lagu Linkin Park?) dia suka menulis kata-kata mutiara atau ungkapan-ungkapan dalam bahasa Jepang (yang dulu buat tahu artinya saya harus pergi ke Gramedia buat cari di kamus Bahasa Jepang) dan yang bikin saya senyum sumringah adalah saya masih menyimpan gambar-gambar pesawatnya. Oke, saya tidak bisa meng-upload gambar pesawat itu karena tidak enak kalau dilihat yang punya.

Tapi saya masih selalu menyimpannya di binder saya, sebab saya suka dapat sesuatu yang dibuat sendiri oleh seseorang. Gambar-gambar pesawat itu tidak pernah saya minta. Dia membuatnya sendiri untuk saya, di binder yang siangnya dia pinjam dari saya. 

Teringat sebuah kata-kata dalam film Perahu Kertas

"Carilah orang yang bisa ngasih kamu segala-galanya tanpa pernah kamu minta.."

Dalem banget ya makna kata-kata tersebut? 

Saya nggak pernah minta Mr.X ini buat melukis pesawat buat saya, apalagi memintanya menuliskan kode 151188 di badan pesawatnya. Dia melukis atas kemauannya sendiri. Buat saya, katanya sepuluh tahun silam. 

begitu juga dengan kartu natal yang dikirimkannya untuk saya, semua dilakukannya tanpa pernah saya minta. Dan hal itulah yang membuat saya bahagia. Ada yang kenal ini tulisan siapa? ~mudah-mudahan yang punya tulisan juga nggak ingat :D

Saya juga masih menyimpan beberapa kartu ucapan yang  pernah diberikan oleh kawan-kawan terbaik saya semasa saya ulang tahun. Lihat deh mereka mengucapkan untuk ulang tahun saya yang ke berapa... dan wakt saya menuliskan blog ini, usia saya sudah dua puluh empat tahun, empat bulan lagi sudah mau 25 tahun!! 

bayangin dong, ini kartu ultah waktu saya ultah ke 18, yang artinya itu tujuh tahun yang lalu

Saya memang benar-benar penyimpan kenangan yang baik, bukan?  yang satu ini malah saat saya masih berulang tahun yang ke-17, sweet seventeen...




Ada satu lagi yang berkesan dari hasil beres-beres kamar, yaitu boneka berjubah cokelat ini. Boneka yang menggambarkan St. Fransiskus dari Asisi ini diberikan oleh seseorang juga yan pernah dan masih tetap menjadi seorang yang spesial buat saya. Boneka ini diberikan bersama VCD-nya juga, yang juga bercerita tentang perjalanan hidup St. Fransiskus dari Asisi. Kalau saya nggak salah ingat, ini diberikan waktu saya masih semester tiga, ya sekitar empat tahun silam. Inipun tanpa saya minta. Dan saya suka sekali.


Ya, saya memang penyimpan kenangan yang baik, tapi bukan hanya itu, saya selalu menyimpan kebaikan hati orang-orang yang pernah memberikan ini semua untuk saya.  Apalagi kalau kartu ucapan atau lukisan-lukisan itu dibuat sendiri, hasil karya sendiri, saya benar-benar merasa begitu spesial menerimanya. Karena jujur saja, saya pun kalau ingin memberikan kepada orang yang saya sayang, saya berusaha untuk membuatnya sendiri, bukan hasil beli jadi. Terasa seribu kali lebih spesial.


Jadi, apa kamu ingin menitipkan sesuatu untuk saya simpan?



Mencintai dan Menghormati

Sore tadi, saat saya hadir dalam ibadah ekaristi Minggu sore, saya mendengar ada dua pasutri (pasangan suami istri) yang mengucapkan janji pernikahan kembali, istilah dalam gereja Katolik "memperbaharui janji pernikahan". 

 

Ada satu kalimat yang membuat saya tertegun, yaitu saat masing-masing pasangan mengucapkan "Saya berjanji akan mencintai dan menghormati pasangan saya.."

 

Ya. Berjanji untuk selalu mencintai dan menghormati. Mencintai dan menghormati adalah dua hal yang harus saling mengikuti. Tapi yang saya pikirkan saat ini, kita mungkin menghormati tanpa mencintai tapi tidak mungkin mencintai tanpa menghormati. Saya selalu mencium tangan konsulen-konsulen saya dan beberapa orang perawat yang saya anggap banyak memberikan bekal ilmu saat masa kepaniteraan saya. Saya menghormati mereka tapi tidak mencintai bukan? Nah, itu yang saya maksud dengan kalimat di atas. Tapi kepada pasangan, saya menghormatinya karena saya mencintainya. 

 

Menghormati pasangan bukan berarti harus selalu "nunduk" dan mengikuti semua yang diminta pasangan. Tentu bukan itu. Menghormati artinya kita memberikan "tempat" baginya untuk ia memiliki dunianya sendiri. Misalnya, saya menghormati pasangan saya dengan tidak menanyakan password social network -nya. Saya menghormati pasangan saya dengan tidak melarangnya melakukan hobi atau kesenangannya yang memang sudah ada sejak dulu, bahkan ketika saya belum ada dalam hari-harinya. Saya menghormati pasangan saya dengan berkomitmen untuk tidak bicara kasar, memaki, membentak atau menyindir pasangan saya di depannya maupun di depan orang lain. Saya beri tahu ya, pasangan yang baik akan menjaga kehormatan pasangan lainnya. Dan salah satu "pelecehan" yang sering terjadi di dalam sebuah hubungan adalah ketika kita mulai menyindir pasangan lewat jejaring sosial. Dengan kita menjelekkan atau membawa masalah kita ke jejaring sosial, artinya kita menodai kehormatan pasangan kita sendiri dan tentu menodai kehormatan kita sendiri. Buat apa masalah berdua harus satu dunia yang tahu? 

 

Saya sendiri adalah tipe orang yang akan menuliskan perasaan saya kalau saya sedang sedih atau sedang bahagia. Kalau saya sedang sangat teramat bahagia karena pasangan saya baru kasih surprise atau tiba-tiba dia melakukan hal-hal yang begitu manis, maka saya ingin orang lain tahu betapa bahagianya saya bersamanya, tapi ketika saya kesal, saya marah atau jengkel, maka saya akan menulis di akun twitter saya yang tidak di follow oleh sesiapapun. dengan nama saya yang disamarkan, dan benar-benar hanya untuk meluapkan kemarahan sesaat. Dan menakjubkannya, bahwa hanya 0,05% saja kemarahan tersebut beralasan. Sisanya hanya emosi yang datang sesaat dan setelah itu pergi dengan sendirinya. Bayangkan kalau setiap kali saya jengkel atau setiap kali saya marah dengan pasangan saya, lalu saya tulis di Facebook atau saya maki-maki pasangan saya, bulan ketiga kami pasti sudah berpisah. Dan berpisah secara tidak terhormat pula pastinya. 

 

Salah satu contoh lainnya yang sering tidak kita sadari kita lakukan, yaitu, ketika pasangan kita bicara, kita menyela, memotongnya, tidak mau mendengarkan sampai ia selasai menjelaskan atau malah saat pasangan kita bercerita, kita malah asyik dengan gadget sendiri atau sambil melakukan hal lain seperti baca majalah, gunting kuku atau hal-hal sepele lainnya. Masalah kecil, bukan? Tapi saya menempatkan masalah ini sebagai suatu bentuk kita tidak mampu menghormati pasangan kita. 

 

Mungkin, khusus saya pribadi, satu hal lagi yang saya lakukan (dan benar-benar keputusan saya sendiri melakukannya) adalah dengan mencium tangan pasangan saya setiap kali kami bertemu dan setiap akan berpisah kembali. Buat saya, makna "cium tangan" itu adalah, "saya menghormatimu sebagai pasangan saya, seseorang yang mampu membimbing saya sekarang dan seterusnya.." dan kalau setelahnya saya dapat "hadiah" kecupan lembut di kening, saya mengartikannya sebagai dia pun mengasihi dan menghormati saya.

 

Sering saya mendengar "Laki-laki tidak boleh kasar pada perempuan.." maka saya pun tidak mau sepihak saja, saya pun berjanji untuk tidak pernah kasar terhadap pasangan saya di dalam kondisi apapun. Saya akan tetap berusaha menjadi perempuan yang mampu bersikap sopan, lambat dalam berkata-kata, selalu mendengarkan dengan penuh perhatian dan tetap lembut dalam kondisi apapun. Saya ingin menghormati pasangan saya sebagaimana saya ingin diperlakukan.


 -morina-

28.07.13

Saint Camillus Pelindungku...



Santo Camillus pelindung para dokter...
Ajarilah aku untuk selalu menjadi seturut dengan teladan Kristus, yang mau melayani kepada siapapun tanpa memandang status sosialnya. Yang bersedia dengan ringan tangan memberikan bantuan kepada mereka semua yang paling memerlukannya.


Santo Camillus pelindung para dokter...
Berjalanlah selalu bersamaku dalam setiap langkah pelayanan dalam hidupku. Sama seperti engkau yang meresapi panggilan Tuhan terhadap mereka yang sakit dan menderita setelah begitu banyak badai menerpa, maka akupun demikian. Aku yang dulu menyesali sekolahku, namun kini aku tahu, Tuhan kelak akan memakaiku untuk menjadi hamba-Nya di tengah-tengah umat kesayangan-Nya. 

Santo Camillus pelindung para dokter...
Ingatkanlah aku selalu ketika aku mulai lupa akan tujuan hidup panggilanku. Ingatkan aku untuk selalu tersenyum, menyapa dan membagikan kasih kepada mereka yang sakit dan menderita. Semoga aku tak menambah beban penderitaan mereka dan tidak menyakiti mereka. Biarlah aku menjadi perpanjangan tangan Tuhan untuk membuat mereka tersenyum dan memiliki harapan, sebab kesembuhan datangnya dari Tuhan saja


Santo Camillus pelindung para dokter...
Penuhilah pengetahuanku, akal budi dan seluruh kemampuanku untuk tetap mementingkan pelayanan terbaik bagi setiap pasien-pasienku. Dampingilah aku setiap kali aku berhadapan dengan mereka yang sakit dan membutuhkan bantuan. Berikan hikmat dan kasih setulus kasih-Mu kepada Kristus, agar aku pun dapat melihat Kristus di dalam mereka yang sakit dan menderita. Bila aku tak dapat melakukan apa yang mereka harapkan, setidaknya aku tidak menambah beban mereka, setidaknya aku tidak menyakiti mereka.

Santo Camillus pelindung para dokter...
Ajarlah aku untuk selalu menjadi dokter yang takut akan Tuhan. Sebab takut akan Tuhan adalah awal dari segala sesuatu. Biarlah setiap kemampuanku, setiap proses di dalam hidupku membawaku untuk lebih mau lagi dipakai dalam setiap rencana-Nya..

Santo Camillus pelindung para dokter....doakanlah kami senantiasa..AMEN
 
 

Santo Kamilus de Lellis

Kamilus lahir di Bocchionico, Italia Tengah pada tahun 1550. pada masa remajanya, ia sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda positif akan menjadi seorang Abdi Allah. Putra pejabat militer ini terkenal nakal dank arena itu harus diawasi secara ketat oleh ayahnya setelah kematian ibunya. Pada usia17 tahun, ia menjadi tentara Venesia. Tetapi tujuh tahun kemudian ia dipecat karena lekas naik darah dan suka berjudi.

 

Setelah meninggalkan dinas militer, Kamilus semakin gemar saja berjudi, sehingga berkali-kali ia jatuh miskin dan akhirnya menjadi pengemis. Pada tahun 1574, ia menjadi seorang pekerja bangunan di biara Kapusin Manfredonia. Di sana ia bertobat lalu melamar menjadi seorang bruder Kapusin di biara itu. Namun ia ditolak karena luka parah pada kakinya

 

Kamilus kemudian berangkat ke Roma untuk mencari pengobatan yang lebih baik untuk lukanya. Di sana ia bertemu dengan Santo Philipus Neri. Philipus menjadi bapa pengakuannya. Setelah beberapa lama, Kamilus diterima menjadi pasien di rumah sakit San Giacomo. Di rumah sakit ini, Kamilus kemudian menjadi seorang perawat. Ia ditugaskan merawat orang-orang sakit yang tidka bisa terobati lagi. Kesabaran dan kesanggupannya untuk merawat orang-orang ini menaikkan prestasinya. Oleh karena itu, kemudian Kamilus diangkat menjadi direktur rumah sakit ini.

 

Semangat pelayanannya kepada para pasien sungguh besar. Ia kemudian berkeputusan untuk membaktikan dirinya bagi pelayanan orang-orang sakit. Kelalaian para perawat, bahkan imam-imam terhadap kepentingan orang-orang sakit mendorong dia semakin menekuni pelayanan terhadap orang-orang sakit. Atas nasehat Philipus Neri, Kamilus memutuskan untuk menjadi imam. Untuk itu ia giat belajar dan kemudian ditahbiskan menjadi imam pada tahun 1584 di Roma. Pada tahun itu juga ia mendirikan sebuah tarekat baru, Tarekat Hamba Orang-Orang Sakit, yang disebut juga Imam-Imam Kamilian. Anggota tarekat ini mengabdikan dirinya pada pelayanan orang-orang sakit. Dua tahun berikutnya kongregasi ini direstui oleh Sri Paus Sixtus V pada tahun 1586, dan pada tahun 1591 Paus Gregorius XIV meningkatkan statusnya menjadi sebuah ordo religius. Kamilus menjadi pemimpin pertama ordo itu dna membangun biara-biara di Napoli dan kota-kota Italia lainnya. Kepada rekan-rekannya, ia menasehatkan: “mengabdilah seikhlas-ikhlasnya hingga titik darah yang terakhir, karena Tuhan hadir secara paling nyata di dalam diri orang-orang sakit yang kita layani. Kita ditugaskan Tuhan untuk melayani Dia dalam diri orang-orang sakit ini.”

 

Kamilus meninggal dunia pada tanggal 14 Juli 1614 dalam usia 64 tahun. Jenazahnya dikuburkan di gereja Santa Maria Magdalena di Roma. Banyak mujizat dialami oleh orang-orang yang berdoa dengan perantaraannya. Kamilus dinyatakan sebagai ‘beato’ pada tahun 1742 dan digelari ‘santo’ oleh Paus Benediktus XIV pada tahun 1746. ia dihormati sebagai santo pelindung orang-orang sakit, para perawat dan organisasi-organisasi kesehatan.

 

(Diambil dari “Orang Kudus Sepanjang Tahun karangan Mgr. Nocilaas Martinus Schneiders, CICM)

Sabtu, 27 Juli 2013

Hujan dan Rindu

 

 

Kangenku adalah himpunan samudera yang menguap jadi awan
Ditiupkan angin hingga ke kotamu,
Dan jatuh sebagai hujan,
 

Yang membasahi kepalamu..
Meresap di serat-serat pakaianmu,
Seolah ingin memelukmu dalam dinginnya..

 

Bila hujan mengguyur kembali,
Ingatlah aku tengah merindu..
Membahasakannya dengan simfoni alam,
Mengisyaratkannya kepada langit
Dan menemuimu dalam wujud yang lain,,
 

Sebab rindu adalah gumpalan-gumpalan awan bermuatan yang harus mencair..
Bila hujan menemuimu lagi,
Tersenyum dan pandangi saja,,
 

Di sela-sela rinainya yang jatuh, wajahku tersamar, menemuimu dalam teduh..
Aku berdoa hujan turun lagi,,
Dan rintiknya yang mengguyurmu adalah pelukanku dalam bentuk yang lain..

 

15.03.13

 

katakanlah, aku menyematkan rindu di setiap momen yang aku lalui denganmu