Kamis, 06 Februari 2014

#30HariMenulisSuratCinta: Day 6: Kakak Perempuanku Tersayang...



My Sista...

 

 

Mimpi apa aku semalam, bisa jaga IGD dengan perawat perempuan paling jutek, judes, gak ada enak-enaknya deh dipandang. Saya kasih seratus ribu kalau ada koass yang bisa bikin perawat terjutek se-Lampung itu tersenyum!!

 

Namanya, Tirta Amerta Sari....aduh...kemayu betul kan nama itu, tapi sumpah demi soto di belakang Rumah Sakit Imanuel yang enak itu, orangnya gak ada kemayu-kemayunya. Tomboynya nomor satu. Dia lebih jago kungfu kayaknya daripada dandan. Ayo taruhan? 

 

Tapi saya sayang kakak.....*pake wajah manis sambil kedip-kedip*

 

Kakakku sayang,

Aku masih ingat koq bagaimana penampilanku waktu pertama kali memulai kepaniteraan. Kucel. Kumel. Nggak pernah memoles make-up di wajahku. Aku masa bodo. Aku cuek aja. Peduli apa soal make up, yang penting isi otak. Yang penting, kalau ditanya konsulen "Ada berapa jenis derajat luka bakar" aku bisa jawab. Itu yang penting.


 

Tapi katamu, perempuan itu perlu terlihat cantik. Kenapa kita membiarkan diri kita kucel kalau sebenarnya kita bisa nampak cantik? Biar orang lihat kalau kita nih cantik, kita bisa kayak artis di tivi-tivi itu dan lebihnya, sudah cantik, dokter lagi. 

 

Awalnya aku masih ragu, tapi akhirnya aku coba juga. Mengusapkan pelembab di pipi, memoleskan bedak, menggaris alis dan memoles lipstik tipis-tipis. Apa kakak tahu, hari itu sedikitnya empat orang perawat di bangsal menggodaku, "Cieee...morin cantik loh hari ini. Koq tumben dandan.." aku GR sih...sedikit. Hehehe.


 

Sejak saat itu, aku mencoba dandan. Aku mulai memperhatikan kemejaku, memperhatikan rok-ku, semua rok dibawah lutut aku pangkas. Sexy sedikit boleh dong? Biar orang melirik, toh aku masih sendiri. Dan aku menikmati periode itik buruk rupa menjadi angsa putih. Aku menikmatinya. 

 

Aku tak tahu hal apa sebenarnya yang membuat kita awalnya dekat. Soal bolus iv pertama kali? Atau soal aku pernah ingin kau jodohkan dengan seorang kawanmu? Sebenarnya ia keren sih, tapi dulu kan aku itik buruk rupa, jadi mungkin dia tak tertarik. Kalau sekarang...dia nyesal nggak ya? Hehehehe.

 

Terima kasih pernah mengajariku suntik iv untuk pertama kalinya. Secara teori, semua sudah diluar kepala, tapi begitu harus praktik, rasanya gemetaran. Tapi toh aku bisa juga, walaupun masih grogi. Itu jadi pelajaran buatku, ke depannya, aku lebih percaya diri. Di beberapa rumah sakit bahkan aku jadi seniornya, mensupervisi teman-teman untuk belajar suntik iv. Aku hanya mengerjakan yang sulit-sulit. Kalau yang mudah, semua sudah kuberikan pada teman lain. 

 

Beberapa hari yanglalu, aku dapat pasien intoksikasi organofosfat di IGD. Apa aku panik? Nggak sama sekali. Aku sudah tau apa saja yang harus aku kerjakan. Pasang infus, bilas lambung, Sulfas Atrofin dan Pantoprazole. Semua siap dikerjakan. Aku tinggak memberikan instruksi. Tahukah kakak darimana aku belajar itu pertama kali? Di RS Imanuel. Ketika aku harus rela pulang lebih telat karena ada pasien intoksikasi sabun cair. Aku yang bermandi muntahannya, aku yang pasang infusnya. Aku yang ada di sana. Sekali lagi juga di RS Mardi Waluyo. Seorang pasien intoksikasi obat penenang. Aku yang pegangi botol bilas lambungnya. Malu karena berjas putih tapi pegang-pegang botol? Sama sekali nggak. Aku kerjakan seluruhnya dengan senang hati. Dan ketika akulah yang harus menjadi penangung jawab, aku tak lagi canggung. Aku memberikan instruksi tanpa ragu. 


Aku tidak tahu kenapa aku begitu mencintai IGD. Mungkin karena aku tipe orang yang senang kerja dengan ritme yang cepat. Atau mungkin juga karena aku menikmati melakukan tindakan ketimbang harus belajar teori di RS. Dan biasanya, harus kepada perawat yang jutek itulah aku belajar. Nggak tahu kenapa. Di beberapa rumah sakit selalu begitu. Teman-temanku pernah tanya, "Kenapa sih kamu dekatnya selalu sama perawat yang paling jutek?" Aku bilang, "Mungkin karena aku harus tebal muka kalau mau dikasih tindakan atau juga mungkin mereka tahu, aku nggak cuma jual muka, nggak cuma absen di IGD. Aku mau belajar. Aku harus bisa melakukan apa yang mereka bisa. Aku nggak mau cuma bisa kasih perintah. Aku harus terampil juga mengerjakannya."


Kata Mbok Prapti di RS Imanuel, "Jangan pernah menyerah. Sesulit apapun, jangan pernah menyerah." dan jadilah aku yang "disetrap" harus berhasil pasang infus di tangan perempuan yang venanya nggak kelihatan. Tapi harus bisa. Harus sampai dapat, kalau nggak, aku nggak pulang.


Sekarang, ketika bertugas di IGD, aku sudah terbiasa dengan ritme kerjanya, aku sudah terbiasa untuk memberikan instruksi sesuai dengan apa yang harus dikerjakan. Bagianku kini memang sudah lebih banyak hanya memberikan instruksi, tapi kadang, aku rindu masa-masa bisa melakukan tindakan. Aku suka aktif bekerja daripada diam saja. Kalau kata dokter jaga di RS Mardi Waluyo, "Morin ini kayak nggak ada capeknya ya..jaga melulu..." tapi bonusnya, aku boleh hecting...seru kan..


Kalau kata perawat-perawat IGD, "Morin ini kayak setrikaan loh, mondar-mandir melulu. Duduk sini sih.." tapi aku nggak mau duduk kalau masih ada perawat yang bikin tindakan. Aku nggak mau ketinggalan satu tindakanpun.


Mama Lakeswara yang cantik dan baik hati...

Pengalaman koass pertama adalah bagaimana kita dibentuk untuk stase-stase berikutnya. Aku bangga jadi alumni koass RS Imanuel. Aku belajar melakukan seluruh tindakan dengan steril, belajar untuk bisa bekerja cepat, tepat dan bertanggung jawab. AKu ditempa, walaupun menyakitkan, tapi akhirnya aku kuat, akhirnya aku percaya diri. Di RS-RS berikutnya, aku tinggal melatih lagi. Mengasah keterampilanku untuk makin baik. Oh ya, kalau soal hecting, dr Dono, Sp. B yang paling berjasa. Sampaikan salamku untuk dr Dono, ya kak Tirta sayang.. Katakan padanya, aku sekarang sudah terampil hecting. Luka separah apapun, jahitanku tetap rapi. Ia yang dulu memegangi tanganku ketika pertama kali aku hecting karena aku grogi. Ia yang dulu menyuruhku latihan di bantal dan betul-betul aku lakukan. Sekarang aku bisa jahit cepat. Sampaikan padanya segala terima kasihku yang terdalam, karena selalu membelaku, karena selalu ada di pihakku, karena selalu mau jadi teman curhatku juga. Aku kangen loh jaga di polinya. Ia baik. Dulu, aku dijuluki "koass kesayangan dr Dono.." tapi dengan nada sinis dari teman-temanku. Karena dr Dono cuma mau aku yang asistensi beliau kalau beliau yang operasi. Ia selalu mau aku yang melakukan tindakan di IGD. 


Kak Tirta tersayang.....

Orang bilang, koass itu cuma ingat sama perawat pas butuhnya saja. Aku tidak. Aku masih selalu mengingat perawat-perawat yang berjasa padaku. Yang mau mengajari dengan sabar. Aku selalu menghormati mereka sekalipun sekarang aku sudah lulus. Bagiku tak ada beda. Aku masih adik kecil mereka yang manja tapi begitu berhadapan dengan pasien, seriusnya nggak bisa diusik. 


Kemarin, saat aku jaga, ada lima orang yang masuk ke ruanganku dan mengatakan, "Dokternya masih muda banget, cantik lagi..." dan aku cuma tersipu malu. Coba kalau mereka tahu kayak apa kucelnya dokternya dulu ya? Hehehe...


terima kasih selalu menjadi kakak perempuanku yang paling baik...Semua anak perempuan rasanya memang butuh sosok perempuan lain yang dianggapnya kakak. Kebetulan aku menemukannya dalam dirimu. Aku berterima kasih..


Sehat ya mommy Lakes dan bayi kecilnya... Aku nggak sabar peluk kalian bertiga...


Bekasi, 6 Februari 2014

*keliatan gak metamorfosis itik buruk rupa jadi angsa nya??. Hehehe*




Rabu, 05 Februari 2014

Event 30HariMenulisSuratCinta: Day 5 "Untuk Neptunus, Perihal Percakapan Tengah Malam""

Itu nama samaranmu, di buku harianku. Kau tahu, kan, seringkali kita (ehmm..maksudnya aku) menulis buku harian dan supaya tak banyak yang tahu untuk siapa tulisan itu ditujukan, aku menulis nama-nama orang di dalamnya dengan nama samaran. Aku tak ingat betul kenapa aku memilih nama Neptunus untuk menyamarkan namamu.


Aku pernah memberi nama "Dewa" kepada seseorang yang pernah sangat aku kasihi, aku pernah menamakan "Matahari", "Awan", "Rama" dan "Bintang". Aku suka nama-nama itu. Aku menyukai nama-nama sansekerta. Aku berharap bisa menamai anak perempuanku nanti dengan Dinaya, atau kalau laki-laki akan kuberi nama Bimasena, atau Ayodia atau Mahesa. Ya, pokoknya yang terdengar agak Sansekerta. Kembali ke topik awal. Aku memberimu nama "Neptunus" mungkin terpengaruh dengan novel Perahu Kertas yang beberapa waktu lalu aku baca. 


Neptunus-ku.....

Aku tahu tidak mudah untuk kita melewati begitu banyak hari dengan jarak yang membentang. Ini sulit. Bagiku dan juga bagimu. Tapi harus aku katakan sejujurnya, aku adalah seorang yang pembosan. Tapi denganmu, aku tak pernah bosan bercerita, bermanja-manja. Aku suka menunggumu pulang kerja, mendengar barang satu dua cerita tentang keseharianmu. Aku kelak mungkin nantinya akan sangat menyukai percakapan menjelang tidur kita, ya, suatu waktu nanti, kala kita sudah bisa bersama. Aku akan menceritakan keseharianku dan kau dengan keseharianmu. Aku suka momen-momen bercerita denganmu menjelang tidur. Atau, mungkinkah hal itu yang membuatku tak bosan denganmu? Karena memang kesibukan kita hanya menyisakan sepenggal malam untuk kita saling mengisi?


Neptunusku............

Momen bercerita denganmu di ujung malam selalu membuatku jadi lebih baik. Aku sendiri tidak tahu kenapa. Aku setingkat lebih bahagia di akhir percakapan kita dan siap terlelap dengan lebih nyenyak. Aku suka dengar kau tertawa, aku suka dengar kegilaanmu atau sekedar gombalan tengah malam. Aku suka. Bukankah penggalan cerita tiap malam itu yang akhirnya mendekatkan kita? Aku tak pernah ingin kehilangan itu semua, Neptunusku. Aku selalu bersedia menunggumu pulang tiap malam, jam berapapun itu hanya untuk mendengar satu menit saja ceritamu, atau sekedar mendengar kau mengucapkan "met bobo adek.." cuma itu. Simpel kan?


Neptunusku, maukah selalu menyediakan satu menit menjelang tidurmu untuk sekedar meneleponku yang tak pernah tidak menunggumu?

Jumat, 31 Januari 2014

Perempuan yang Menulis dengan Air Mata

Aku tak ingin menulis dengan air mata
tapi lembar-lembar putih sudah jadi basah
goresannya tak menceritakan apa-apa
kecuali bila ku sentuh sendiri,
kertas itu mengalir darah....


Aku tidak ingin menulis dengan air mata,
tapi tinta-tinta sudah mengering dan beku
cuma sisa tetesan-tetesan air mata yang bisa terbaca
tanpa sinar ultraviolet sekalipun

Suatu hari, air mata akan menuliskan kepedihannya sendiri
membuat biografi dan mengejanya sendiri
ia melukis tidak dengan jari-jari,
tapi dari tiap rintihan pilu
dan lembar-lembar jadi basah
tapi tak mengering dibawah matahari

Suatu hari, cuma ada lembar-lembar basah
di setiap buku,
di setiap halaman majalah
dan di papan-papan reklame
saat itu, semua menulis dengan air mata masing-masing
karena kesakitan tidak lagi mampu diucapkan
kepedihan tak lagi bisa diceritakan..


Bekasi, 31 Januari 2013

Ada Malaikat Berjubah Cokelat

Dear Dewa

Malam ini saya sedang kesakitan, tapi berbeda dengan apa yang saya keluhkan beberapa tahun silam, waktu saya masih punya kamu. Waktu saya masih bisa menghubungimu kapan saja dan di mana saja. Waktu saya masih gadis kecil kesayanganmu.

 

Saya, kangen kamu....

 

Malam itu, saya bukan hanya sakit secara fisik, tapi juga lelah secara hati. Kau pasti lebih mengerti. Kau sudah paham. Saat itu saya selalu memanggilmu "Malaikat Berjubah Cokelat" sebab kamu seorang frater OFM. Pakaianmu sama dengan pakaian St. Fransiscus dari Asisi. 

 

Malam itu saya meneleponmu, menangis karena seluruh perasaan campur aduk jadi satu. Saya bilang saya lelah mengemis kanan kiri mau minta tolong supaya saya bisa sembuh, supaya saya bisa lepas dari ketergantungan opioid. Saya cuma menangis tersedu-sedu karena putus asa, dan kamu selalu jadi pendengar yang baik, kamu bilang, "Sweetheart, jangan putus harapan. Masih ada Allah yang baik dan kamu masih punya saya. Besok saya datang ya? Kita ketemu ya?" Saya mengiyakan. 

 

Malam itu tidur saya lebih baik. Diiringi sebuah SMS darimu, "Tidurlah yang nyenyak, sweetheart, jangan patah semangat. Masih ada aku, yang mendoakanmu. Besok kita cari jalan keluarnya sama-sama.."

 

Esok harinya, kamu benar datang. Tanpa menghakimi atau tanpa memintaku bercerita di awal, kamu mengajakku nonton di twenty one, lalu kita makan di sebuah restaurant, terakhir kita nongkrong di Dunkin Donut sampai larut malam. 

 

Saya suka jalan-jalan denganmu, walaupun rasanya aneh. Orang pasti mengira kita pacaran, padahal tidak. Kau, malaikat berjubah cokelat, yang selalu ada kapanpun saya membutuhkanmu.

 

Saya kuliah di Fakultas Kedokteran dan kamu kuliah Teologi. Kamu tak paham betul saya sakit apa, tapi ada satu folder di notebook mu yang menyimpan arsip-arsip tentang sakitku. Kamu dan saya sama-sama menjelajah dunia internet dan mencoba mendalami permasalahanku. Saya tertegun sejenak menatap layar notebook mu dan dalam hati saya berujar, "Terima kasih kiriman Malaikat Berjubah Cokelat-nya, Tuhan..." 

 

Di meja cafe itu juga saya meneteskan air mata, saya biarkan seluruh kelelahan tumpah di hadapanmu. Saya menangis tersedu-sedu dan cuma bisa bilang, "Saya harus cari bantuan sama siapa lagi? Saya mau konsul ke dokter jantung yang lain, tapi saya tidak punya uang.."

Kau mengatakannya dengan penuh kasih, "Kamu mau konsul ke mana? Saya temani ya? Saya biayai semuanya. Kamu jangan takut soal biaya, saya ada. Saya yang akan menanggung semua biayanya.."

 

Akhirnya saya memang bisa bertemu dengan dokter lain, semangatmu lah yang saya tanamkan di hati, sebab saat itu semua orang terlalu pengecut untuk membantu saya. Saya seperti seorang pengemis yang minta belas kasihan. Saya takkan melupakan kejadian itu, Dewa. Saya tak pernah bisa melupakannya. Saya masih sering sedih mengingatnya. Saya cuma bisa bilang, kalau saya masih berdiri tegar sampai di detik ini, tak lain karena di momen-momen paling menyedihkan itu, selalu ada kamu, yang tak pernah melepaskan tangan saya barang sejenak. Kamu jaga saya baik-baik, kamu rangkul saya untuk tetap berjalan dan kamu tak pernah menghakimi saya. Kamu selalu mendengarkan saya dan selalu bilang, "Jangan pernah merasa sendiri. Saya ada, kapanpun kamu membutuhkan saya..."

 

Saya ingin sekali meneleponmu lagi, mengirimimu sms atau seperti natal-natal kemarin, kita saling berkirim hadiah dan kartu ucapan. Saya kangen kamu. 

 

Saya berdoa kamu bahagia dengan pilihanmu saat ini, Dewa... jalan yang kau pilih, keputusan yang kau buat,saya tahu kau sudah memikirkannya matang-matang. Saya selalu dan masih selalu berdoa untukmu. Saya pernah bilang padamu, "Kalau saya menikah nanti, harus kau yang memimpin ekaristinya.." dan kamu mengiyakan. Ternyata, jalan ke depan jauh berbeda. Kamu memilih untuk melepas jubah cokelatmu dan kembali menjadi awam. Saya berdoa untukmu, Dewa. Senantiasa berdoa. Kalau kelak akhirnya kamu temukan seorang perempuan untuk mendampingi hidupmu, ia pasti perempuan yang sangat berbahagia, mendapatkan laki-laki sebaik dan setegar kamu. 

 

Saya masih ingat awal perkenalan kita, Dewa. Saya, yang masih begitu senang memberontak dan kamu yang penuh dengan kasih seperti malaikat. Saya hampir nekad pulang dari reat-ret dan kau yang membuatku lebih nyaman. Katamu, "Kalau kamu ingin pulang, pulanglah besok. Saya yang akan mengantarmu. Tapi kalau kau mau bertahan, bertahanlah hingga lusa dan saya janji takkan memaksamu mengikuti kegiatan apapun di sini. Kamu boleh menyendiri, boleh menikmati seluruh waktumu sendiri."

 

Saya sedang di Jakarta, Dewa...dan betapa inginnya saya bertemu denganmu. Banyak sekali hal yang ingin saya ceritakan. Saya ingin jalan-jalan lagi denganmu, ngobrol sampai malam di cafe yang sama dan saya ingin menagih janjimu, "Kalau kamu sudah jadi dokter nanti, mau nggak seminggu sekali kamu ke panti? Kami butuh dokter..." saya mau... Ya. Saya mau. Kamu harus membawa saya ke sana. 

Kamis, 23 Januari 2014

24 Januari, Setahun yang Lalu....

Selamat malam, Mamasku....


Dua puluh empat Januari setahun yang lalu, adalah salah satu malam yang akan selalu ada di dalam laci kenangan di girus-girus cerebri ku. Salah satu malam paling mengesankan, paling menyita seluruh hari-hari dan satu malam paling mendebarkan.

Aku tak ingat malam itu kau memintaku menjadi kekasihmu. Diantara jarak yang begitu jauh, yang memisahkan tatapanmu dan tatapanku, aku tak ingat pernahkah kau menanyakan "Maukah kau jadi pacarku?" Aku hanya ingat, kalimat itu memang tidak pernah ada...tidak pernah kau ucapkan..juga hingga puluhan juta detik yang sudah kita lalui berdua. Kau tak pernah memintaku menjadi pacarmu. 

Malam itu, tak pernah aku lupa, kau menuliskannya dengan sangat manis, "di usiaku yang sudah setua ini, aku tak lagi mencari pacar hanya sekedar untuk main-main, aku mencari perempuan yang mau mendampingiku seumur hidup.."

 

Kekasihku..............
aku menuliskan sebuah gurat nama di permukaan hati 
dan tak lagi menorehkannya dengan tinta yang pudar dihapus waktu
kuukir dengan perjalanan hari-hari
yang kemana aku pergi, tak sejenakpun tertinggal 

Kita pernah melawan waktu dan meringis pilu
kala malam digilas rindu yang entah kan bertepi dimana
kita melewatinya
diantara rajam-rajam yang mencemooh
dan duri-duri yang menyakiti panjangnya penantian
tapi adakah kita memilih untuk saling melepas?

Semua doa rindumu telah berlabuh di pesisir hatiku
dan untai novena ku selalu menemani setiap langkahmu
hanya bait-bait ketabahan dan hasrat menyimpan setia
yang akhirnya selalu membawamu pulang
dan menghadirkan kembali aku di dekap eratmu

24 Januari, setahun yang lalu...
ketika perjalanan dimulai dengan empat belas tanya
dan aku tak pernah menyajikan jawab
kecuali "ada aku di setiap kau ingin berlari  karena luka"


24 Januari, setahun yang lalu...
dimulai dengan mimpi yang tak terlalu tinggi
kau sapukan siluet manis yang selalu menghadirkan senyuman
dan aku tak pernah jemu menuliskannya
bukankah akhirnya kita diarahkan mencintai keindahan yang sama?
aku dan lembar-lembar puisi dan kau yang menjadikannya sketsa 

Aku tau tulisan mampu bicara, tapi kau menjadikannya lebih dari sekedar bicara
goresan kata yang kau terjemahkan menjadi hidup di atas kanvasmu
lalu kita bercerita tanpa seorangpun mengerti
sebab sejak itu, dunia yang kita kukuhkan, memang hanya aku dan kau
yang mampu menekuni isyaratnya...

Tiga ratus enam puluh lima hari sudah terlewati...
aku masih ingin bergulat di dunia kita yang menyuguhkan begitu banyak warna
aku masih ingin terus menulis sembari menemanimu melukis..
aku ingin hidup tanpa akhir
kecuali kita mengakhirnya di atas lembar-lembar yang di atasnya penuh riwayat kita
dan ribuan mahakarya yang pada akhirnya menenggelamkan aku dan kau 




~terima kasih untuk setiap waktu yang kita lalui berdua, sekalipun aku di sini dan kau masih belum mampu kudampingi setiap waktu. Teduh tatapanmu selalu meredakan segala rasa khawatirku, dekap erat pelukmu selalu menyatakan semua akan baik-baik saja dan satu kecup di kening selalu menyatakan betapa berartinya aku untukmu




with love..

24 Januari 2014



Jumat, 22 November 2013

Labirin yang Tak Lagi Perlu Diselesaikan

Begini...

Saya sedang mencoba peruntungan dengan berani masuk untuk menelusuri sebuah labirin...

 Ya...sebutlah itu sebuah labirin. Pernah tahu soal labirin?

 

Kita memulai masuk ke sebuah labirin tanpa membawa peta bukan? Kita menelusuri dan terus menelusuri hingga kita mencapai jalan keluarnya. Bukankah itu yang seharusnya terjadi bila kita memutuskan untuk masuk ke dalam sebuah labirin? Cuma orang gila yang masuk dalam labirin dan membawa peta. 

 

Masuk ke dalam labirin adalah proses menemukan jalan keluar. Bukankah seharusnya demikian? Atau mungkin kalau kita tak juga menemukan jalan keluarnya, saya membayangkan seperti adegan di film Harry Potter IV dimana para pesertanya boleh mengirimkan tanda nyala api yang artinya mereka menyerah. Tapi sebelum nyala api itu dikirimkan, berarti sang peserta tetap akan menelusurinya sendiri, mencari Piala Api!

 

Saya pun demikian. Aku memutuskan untuk masuk ke dalam sebuah labirin. Aku memutuskan untuk menelusurinya sampai batas waktu yang sudah aku tentukan. Lewat batas waktu itu, aku mungkin memilih menyerah. Tapi selama belum habis waktunya, aku akan tetap mencoba setiap lorong, setiap jalan dan setiap kemungkinan yang ada. 

 

Akan tetapi, tiba-tiba saja, ketika saya tengah menelusuri labirin ini, ada seseorang, yang mencekoki saya dengan sebuah peta jalan keluar. Saya tak suka. Saya tak lagi merasa ada serunya menjalani proses ini kalau di depan saya sudah terhampar jalan lurus. Mengapa saya tak dibiarkan sendiri mencari jalan keluar saya? Sekarang, saya seperti kehilangan seluruh gairah saya untuk melanjutkan permainan yang telah saya mulai. Saya tak lagi perlu mencoba setiap lorong, karena kemanapun mata saya menoleh, maka peta seolah dipaparkan dengan begitu jelas. Ketika kaki saya akan melangkah ke kanan, akan langsung muncul tanda silang, bahwa itu jalan yang salah. Jadi, apalagi nikmatnya meneruskan permainan labirin ini? Saya kehilangan momen-momen untuk menelusuri, mengerti dan bersabar. Saya kehilangan proses yang sebenarnya harus menjadi mutlak menjadi milik saya. 

 

Saya tak lagi bersemangat. Saya seperti sudah didikte untuk menyelesaikan permainan ini. Sekarang saya lebih bimbang untuk memutuskan apakah saya harus menyelesaikan permainan ini sekarang juga atau tetap berjalan dengan pasrah menuju jalan keluar yang ditunjukkan oleh peta paksaan itu.

Kamis, 07 November 2013

Karena Aku Rasa Apa yang Kau Rasa...

aku ingin berada di sisimu sepanjang malam, menemanimu, tidak ingin meninggalkanmu barang sejenak, maukah kau tau kenapa aku melakukannya?

aku hanya punya satu jawaban.....

aku merasakan apa yang kau rasakan malam itu......

 

aku tahu apa rasanya saat kita tak mampu mengatur debar jantung kita, tak kuasa melawan serangan yang tiba-tiba datang dan tak mampu berbuat apa-apa...

 aku merasakan apa yang kau rasakan malam itu....

 

banyak malam yang pernah aku lalui sebelumnya sendiri...begitu banyak malam, di mana aku harus menghadapi sendiri ketakutanku, kegelisahanku dan seluruh rasa sakitku, tanpa ada sesiapapun di sisiku. Tanpa ada yang membisikkan kepadaku bahwa semuanya akan baik-baik saja.

karena itu, aku tak ingin kau merasakan pilu yang sama yang pernah ada di perjalanan hidupku...

 

mungkin orang berpikir betapa berlebihannya khawatirku malam itu, tapi ingin aku beritahu kepadamu, aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja sebagai kapasitasku seorang dokter. di saat-saat seperti itu, biarlah aku yang menuntunmu, berikanlah aku kesempatan untuk menjadi dokter untuk orang-orang yang aku sayang..mencurahkan seluruh ilmu dan kemampuanku untuk mengurangi penderitaanmu...

 

aku pernah, berada di dalam kondisi betapa aku ingin ditolong, betapa aku ingin dibantu dan betapa aku sudah mengemis meminta bantuan, tapi tak seorangpun mengulurkan tangan, tak seorangpun percaya bahwa aku sungguh sudah tak sanggup menghadapinya...

aku tak ingin engkau merasakan segala pahit yang pernah aku telan sendiri...aku takkan pernah membiarkannya...

 

kalau aku marah..kalau aku menangis malam itu, sebab aku pernah berada di dalam kondisimu. di saat aku harus pergi padahal sebenarnya hatiku berkata tidak. Di saat aku harus menghadapi sendiri, padahal di sisi hatiku aku merindukan seseorang berdiri di sampingku, menemaniku melewati semua ini. Itulah sayang, mengapa aku tak rela melepaskanmu sendiri malam itu.